Syeikh Abdul Kadir al-Jailani

Khulâsat al-mafâkhir Manaqib Syeikh Abdul Kadir al-Jailani dari Wali Besar Abdullah Al-Yafi’i

Membaca perjalanan hidup para ulama hebat yang pernah mewarnai dunia Islam memang mengasyikan. Melalui cara ini kita bisa meraih kearifan dan motivasi, baik lewat kisah perjuangan mereka atau lewat petuah mereka yang bijak lagi sarat hikmah. Semangat untuk terus menuntut ilmu, mendekatkan diri kepada Allah, dan menerapkan perilaku mulia seringkali muncul secara spontan tatkala kita mengenang sosok para ulama dan aulia di masa lampau.

Kalam sufi mengatakan, dzikru shalihin tanzil rahmah. Mengisahkan orang-orang saleh mendatangkan rahmat. Pernah satu waktu pada saat penulis bersama Maulana Habib Luthfi, tamu-tamu bergantian mengutarakan hajat yang menjadi alasan kedatangan mereka, Habib Luthfi mengisahkan kesalehan guru-gurunya yang bisa diteladani untuk menjawab berbagai persoalan kemasyarakat yang dialami tamu-tamunya. Saat beliau bercerita datanglah seorang tamu dengan tergopoh-gopoh, karena Habib Luthfi sedang bercerita maka tamu yang nampak tergesa-gesa itupun menunggu hingga beliau selesai berbicara. Melihat si tamu tampak gelisah beliau mempersilahkan tamu yang sudah dikenalnya itu mengutarakan maksud. “ anu Bib, saudara saya mau lahiran, sudah dua hari di RS tapi belum juga lahir, kata dokter sudah pembukaan 2 tapi bayi belum juga kelur”.

Belum selesai tamu mengutarakan maksudnya, telepon genggamnya berdering, dari suara telepon yang di load spiker terdengar keluarga yang di RS menginformasikan bahwa bayi sudah lahir”. Sambil tersenyum Habib Luthfi berkata, inilah berkahnya mengisahkan dan mendengarkan kisah orang-orang yang saleh, “dzikru salihin tanzil rahmah”, mengisahkan orang yang saleh menurunkan rahmat, termasuk rahmat itu adalah kemudahahan dan kelancaran dalam melahirkan.

Barangkali inilah relevansi pembacaan manaqib syaikh Abdul Kadir al-Jailani, terutama oleh pengikut tarekat Qadiriyah dan umumnya masyarakat tradisional Jawa sebelum datangnya kaum revivalis yang menyerukan pemurnian Islam. Namun demikian, ditengah pendangkalan agama oleh kaum tekstualis, tradisi pembacaan manaqib masih menjadi cirri khas muslim tradisional di Indonesia baik Jawa, Madura, Sunda, maupun masyarakat Melayu yang tersebar di luar Jawa. Bacaan manaqib selain menjadi bacaan rutin mingguan, bulanan juga menjadi sarana nadzar dan syukuran. Biasanya ada muslim yang bernadzar, kalau bisnisnya sukses saya akan mengadakan manaqiban, selain itu juga di masyarakat manaqiban menyertai siklus hidup manusia, seperti nikhan, khitan, haji, usia kehamilan, kelahiran, akikah dan momentum lainnya.

Manaqib yang dibaca adalah Al-lujjayn al-dânî, menurut Martin Van Bruenessen, kitab hagiografi (penulisan kisah kehidupan wali) inilah yang paling popular di Indonesia. Bahkan di beberapa pesantren di Jawa, untuk membaca kitab manaqib ini seorang santri harus mendapat ijazah terlebih dahulu dari seorang Kiyai. Dalam pembacaannya, seorang pengamal harus berpuasa satu tahun dan setiap hari membaca manaqib Al-lujjayn al-dânî sampai khatam.

Martin Van Bruenessen, seorang antropolog yang meneliti tarekat Qadiriyah di Indonesa, juga menyebutkan kitab lain mengenai hagiografi (manaqib) Syeikh Abdul Kadir al-Jailani, yang ditulis oleh seorang penulis otoritatif, seorang alim besar bernama Abdullah bin As’ad al-Yafi’i r.a (w. 868 H). Manaqib yang ditulis oleh al-Yafi’i berjudul Khulâsat al-mafâkhir. Kitab Khulâsat al-mafâkhir menurut Drewes dan Poerbatjaraka telah diterjemahkan kedalam bahasa Sunda dan Jawa dengan judul Wawacan Seh dan hikayat Seh. Hagiografi lain yang popular di Sunda adalah Tafrîh al-khâtir  yang ditulis ole `Abd al-Qadir b. Muhyi al-din al-Arbili.

Pembcaan manaqib menurut Drewes di Indonesia dapat di telusuri pada kisaran abad 17 M, namun menurut Martin, bacaan manaqib popular pada tahun 1880 di Banten. Manaqib dibaca pada bulan Rabiul Akhir bersamaan dengan momentum peringatan haul (mengingat wafatnya Syeikh Abdul Qadir al-Jailani) dan di Kraton Kanoman Cirebon di baca setiap malam Jumat Kliwon serta pada momentum lainnya sebagaiman penulis singgung di atas.

Dari banyaknya penulis hagiografi Syeikh Abdul Kadir al-Jailani, hagiografi yang ditulis oleh al-Yafi’i dipandang para pakar sebagai buku yang paling otoritatif. Pertama, karena kehidupan al-Yafi’i dengan mata rantainya guru-gurunya (560) lebih dekat dengan kehidupan Syeikh Abdul Kadir al-Jailani dibanding dengan penulis hagiografi Syeikh Abdul Kadir al-Jailani yang lain. Seperti diketahui Syeikh Abdul Kadir al-Jailani wafat pada tahun 560 H/ 1166 M sedangkan al-Yafi’i wafat pada tahun 868 H, sementara penulis Al-lujjayn al-dânî; Ja’far al-Banzanji lahir 1126 H (1714 M) dan wafat 1184 H (1770 M). Kedua, reputasi penulisnya. Al-Yafi’i adalah ulama besar yang diterima luas dikalangan ulama fiqh dan tasawuf, nama besarnya misalkan dapat dirujuk pada kitab Thabaqat al-Kubra yang ditulis oleh Syeikh Abdul Wahab al-Sya’rani sarjana kenamaan al-Azhar murid ternama Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari. Manaqib  Khulâsat al-mafâkhiradalah salah satu karya pentingnya selain sejumlah buku lainnya, seperti Raudh al-Rayahin fi hikayat al-Salihindll. Al-Munawi menyebutnya sebagai ulama paling alim di Hijaz (Mekah-Madinah dan sekitarnya), sebagaimana diketahui dari namanya al-Yafi’i, nama sebuah bukit Yafi di Yaman, ia berasal dari Yaman.Ketiga, telah dilakukan studi filologi (ilmu yang mempelajari  naskah kuno) atas karya manaqib  Khulâsat al-mafâkhir ini, sebagaimana dinyatakan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad, seorang Syeikh Tarekat Qadiriyah Nabawiyah yang memberi pengantar buku tersebut. Metodologi yang digunakan untuk mentahkik bukumanaqib  Khulâsat al-mafâkhir ini bisa dibaca pada halaman xci-xcii. Keempat, kelebihan lainnya buku ini adalah memuat biografi Syeikh Abdul Kadir al-Jailani, bantahan ilmiah terhadap para penentangnya (xli-xc), memuat 195 karamatnya sekaligus ibrah, pelajaran di balik karamat itu, buku ini juga disertai dengan mutiara hikmah yang disampaikan Syeikh Abdul Kadir al-Jailani meliputi tema; Dzikir, Syariah, Tasawuf, tentang al-Hallaj, sekaligus penjelasan gamblang dari Syeikh al-Yafii atas mutiara hikmah yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Kadir al-Jailani tersebut.

Sumber : http://www.habiblutfi.net/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s