situs-makam-ki-ageng-sengguruh

Adipati Sengguruh antara Cerita tutur dan Historiografi

Cerita tutur yang masuk folklore kadang digunakan merekonstruksi peristiwa sejarah masa silam ketika data pendukung bersifat historis tidak ditemukan. Untuk kasus seperti ini, cerita tutur bisa menjadi acuan bagi rekonstruksi sejarah. Namun demikian, jika data pendukung dari cerita tutur itu dihadapkan pada data historis, baik kronik-kronik, naskah-naskah jenis babad, catatan-catatan yang lebih tua usianya, otoritas cerita tutur akan melemah dengan sendiri.

Cerita tutur terkait Ki Ageng Sengguruh, makam kuno yang terletak di Desa Pundensari, kec.Rejotangan, Kab.Tulungagung adalah sumber utama yang menjelaskan makam kuno yang terletak di pinggir aliran sungai Brantas itu. Menurut cerita tutur, Ki Ageng Sengguruh adalah penguasa yang berkuasa di tlatah Ariyoblitar pada masa pemerintahan Majapahit. Menurut cerita tutur yang berkembang  di tengah masyarakat, pada jaman Majapahit terdapat kadipaten kecil yang menjadi cikal bakal Kabupaten Blitar. Ariyoblitar yang terletak di sekitar Desa Aryojeding dan Dusun Pundensari. Kadipaten tersebut dipimpin seorang adipati bernama Nilo Suwarno yang mempunyai seorang permaisuri bernama Sri Wulan. Adipati Nilo Suwarno memiliki patih yang juga kakak kandungnya sendiri, orang yang terkenal licik, curang, jahat,  dan lihai dalam meraih kekuasaan.

Namanya Ki Ageng Sengguruh. Sekalipun sudah menjadi patih Ariyoblitar Ki Ageng Sengguruh masih berambisi menjadi adipati. Tanpa ada yang menduga, diam-diam Ki Ageng Sengguruh mengincar kedudukan Nilo Suwarno dengan cara melenyapkannya secara licik. Ketika Sri Wulan, isteri Nilo Suwarno  hamil dan nyidam ingin  makan ikan bader bang sisik kencono (ikan emas), disusunlah siasat licik oleh Ki Ageng Sengguruh. Dengan bahasa memikat Ki Ageng Sengguruh memberitahu Nilo suwarno  bahwa ikan bader bang sisik kencono ada di Kedung Gayaran di selatan.
Nilo Suwarno pergi ke Kedung Gayaran didampingi Ki Ageng Sengguruh dan sejumlah pengawal. Sesampai di Kedung Gayaran, Ki Ageng Sengguruh mencari kelengahan adiknya. Sewaktu beristirahat di pinggir kedung dan melihat Nilo Suwarno lengah, didoronglah adiknya itu ke kedung. Setelah melihat Nilo Suwarno tercebur didalam kedung, Ki Ageng Sengguruh dan pengawalnya beramai-ramai menutupi kedung itu dengan batu agar Nilo Suwarno tewas.

Setelah yakin Nilo Suwarno tewas, Ki Ageng Sengguruh menceritakan peristiwa sedih itu kepada Sri Wulan. Sri Wulan tidak percaya dengan cerita Ki Ageng Sengguruh. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan Kadipaten Ariyoblitar dan tinggal di pegunungan Pegat di daerah Srengat. Tidak lama tinggal di situ, Sri wulan melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Joko Kandung.

Singkat cerita, sewaktu Joko Kandung telah dewasa diangkat anak oleh  Ki Ageng Sengguruh yang telah menggantikan kedudukan Nilo Suwarno sebagai adipati Ariyoblitar. Joko Kandung sudah tahu bahwa ayahnya, Nilo Suwarno, tewas hilang di Kedung Gayaran akibat  kelicikan Ki Ageng Sengguruh yang menginginkan kdudukan Adipati Ariyoblitar. Ketika melihat ada kesempatan, Joko Kandung yang memegang pusaka milik ayahnya berupa cundrik menikam Ki Ageng Sengguruh sampai tewas.Setelah sadar bahwa  Ki Ageng Sengguruh telah tewas, Joko Kandung melarikan diri ke pegunungan selatan dan di sana dia menghilang tanpa bekas. Begitulah bukit di Blitar selatan itu dinamai daerah  ”Kandung”.

Cerita tutur terkait makam Ki Ageng Sengguruh ini sangat bertolak belakang dengan naskah historiografi yang menceritakan kisah Adipati Sengguruh, yaitu penguasa Kadipaten Sengguruh, sebuah wilayah di selatan Kabupaten Malang pada masa Kesultanan Demak. Makam Adipati Sengguruh di Pundensari, Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, jelas makam seorang muslim dan bukan pejabat di era Majapahit. Karena penguasa Majapahit yang belum muslim, jika meninggal tidak dimakamkan tetapi dibakar dan didharmakan di sebuah candi. Mengidentifikasi nama Sengguruh (nama tempat) di Blitar dan Tulungagung pun jelas tidak memiliki dasar apa pun karena situs Sengguruh satu-satunya hanya ada di Kabupaten Malang.

Di dalam naskah Tedhak Pusponegaran dan Serat Kandaning Ringgit Purwa disebutkan bahwa Adipati Sengguruh yang berkuasa di Kadipateng Sengguruh adalah putera Raden Kusen Adipati Terung. Raden Kusen adalah adik kandung Raden Patah, Sultan Demak Bintara. Raden Kusen berguru kepada Sunan ampel dan dinikahkan dengan Nyai Wilis, cucu Sunan Ampel Denta. Dari pernikahan itu lahir Arya Terung yang menjadi Adipati Sengguruh dan Arya Balitar yang menjadi Adipati Balitar. Jadi mereka berdua adalah saudara sepupu Sultan Trenggana.

Sebagai keluarga Sultan Demak dan keturunan Ampel, Arya Terung Ki Dipati Sengguruh selain menjadi penguasa juga berdakwah. Digambarkan bagaimana.. Ki Dipati Sengguruh, angrukunaken agami Islam ing Kipanjen, Pakishaji, Turyan, Taloka, Gribig, Panawijen, Karebet, Malang, Balitar, Panjer, Rawa, Pamenang….sebuah area dakwah yang cukup luas untuk ukuran waktu itu.

Usaha dakwah Islam di pedalaman tidaklah mudah. Perlawanan diam-diam dilakukan oleh tokoh-tokoh penguasa di pedalaman yang tidak senang dengan perkembangan Islam. Begitulah, sewaktu Ki Dipati Sengguruh beserta adik kandungnya yang bernama Arya Balitar kembali dari berziarah ke makam Sunan Giri dengan melewati Sungai Brantas, diseranglah rombongan peziarah itu oleh Adipati Srengat Nila Suwarna dibantu Adipati Panjer. Oleh karena hanya dikawal oleh 30 orang keluarga dan pengawal, sewaktu diserang oleh 1000 orang terjadi pertarungan sengit yang tidak seimbang  dengan akhir Ki Dipati Sengguruh dan Ki Dipati Blitar tewas terbunuh beserta para keluarga dan prajurit pengawalnya. Kisah penyerangan rombongan peziarah itu digambarkan sebagai berikut:

Sigeg kacarios ing seratan nalika sengkalan taun Jawi Kenget Giri Tataning Tokid, Ki Dipati Sengguruh lan Ki Dipati Balitar sarta sentana katahipun tigangdasa kondur saking pasareanipun Prabu Satmata, nalika wonten ing satengahing  lepen brantas ing laladan Rawa kinepung Ki Dipati Srengat wasta Nila Suwarna sabala lan wadya saking Panjer, kathahipun sewu.

Ki  Dipati Sengguruh saha  Ki Dipati Balitar hasareng  angamuk anusup ing ayuda,  sentana Sengguruh kang mapak ayuda boten antawis lami  sami gusis. Nalika  anyumerepi  sentana Sengguruh kathah ingkang  pejah ing alaga, 
         Ki Dipati Sengguruh saha  Ki Dipati Balitar sami ngedalaken kasekten, tiyang sewu mengsah tiyang kalih  boten kawon ingkang kalih. Ki  Dipati Sengguruh saha Ki Dipati Balitar nora pasa ing senjata saksatnya tan ana braja kang tumama. 

             Sasampuni  campuh prang ngantos dalu, sadaya sentana Sengguruh  sami seda kantun Pangeran Aria Tanen putrani  Ki Dipati Balitar kang taksih gesang anandang tatu, saksana Ki Dipati Sengguruh saha  Ki Dipati Balitar tinungkeban kinepung musuh, lajeng sami rubuh ing bantala, mesat napas miwah   kadibyanipun. Ki  Dipati kekalih  seda ing adilaga. Kacarios  Pangeran Aria Tanen hangreksa layonipun Ki Dipati Sengguruh saha Ki Dipati Balitar sarta sentana Sengguruh, sedaya kasareaken ing sakidulipun lepen brantas.

Terbunuhnya Ki Dipati Sengguruh akibat serangan Adipati Srengat Nila Suwarna dan Adipati Panjer, diikuti oleh cerita diserbunya Kadipaten Sengguruh oleh Raden Pramana, putera Patih Mahodara yang dibantu wadyabala dari Kadipaten Dengkol yang didukung pasukan Menak Supethak dari Garuda. Kadipaten Sengguruh runtuh dalam kerusuhan. Seluruh bangunan terbakar rata dengan tanah. Lima orang putera Ki Dipati Sengguruh melarikan diri dari kejaran musuh. Di antara nama-nama putera Ki Dipati Sengguruh yang disebut adalah Pangeran Arya Jeding, Pangeran Macanbang, Pangeran arya Kandung, Nyimas Ayu Kembang Sri yang dinikah oleh bupati Ponorogo, dan Pangeran Arya Banding yang menggunakan nama Ki Gaib dan tinggal di Terung dan terkenal dengan sebutan Ki Ageng Terung.

Dakwah Islam di pedalaman memang tidak gampang. Sampai pada tahun 1473 J/1551 M, dakwah di Kediri masih terkendala. Adipati Kediri Arya Wiranatapada yang memeluk agama Islam bersama puteri tunggalnya, dikisahkan menimbulkan keguncangan besar. Dalam sebuah kerusuhan massa di kadipaten, Sang Bupati dan Puteri hilang tidak diketemukan jenazahnya. Peristiwa itu membuat marah Sunan Giri III, yaitu Sunan Prapen. Babad Tanah Jawi maupun Serat Kandha mencatat tahun 1473 J atau tahun Masehi 1551 adalah dibakarnya kota Kediri oleh Sunan Giri Prapen. Peristiwa pembakaran Kota Kediri oleh Sunan Giri Prapen hanya selisih delapan tahun setelah  pembunuhan Ki Dipati Sengguruh dan Ki Dipati Blitar.

Demikian sepintas perbandingan cerita sejarah yang didasarkan atas naskah-naskah historiografi dengan cerita tutur. Perbedaan persepsi, asumsi dan penafsiran pasti terjadi. Tetapi silahkan dipilih, mana yang dianggap lebih baik oleh masyarakat. Karena yang menentukan baik dan tidak suatu hal adalah masyarakat sendiri.

Sumber : Agus Sunyoto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s