pengrajin_gerabah_karawang2

Pengrajin Gerabah Karawang Mampukah Bertahan Dalam Gelombang Modernisasi

Kopi-Paste.Nih – Dahulu kala, saat seseorang mengatakan tinggal di daerah Anjun Gempol Tanjungpura Karawang, pikiran orang akan terbayang sebuah perkampungan yang mayoritas penduduknya adalah pembuat gerabah/tembikar dari tanah liat. Itu dulu saat masih banyak pedagang gerabah yang menjajakan hasil produksi gerabahnya di pinggir jalan raya. Saat masih banyak para pengrajin gerabah mencari nafkah dengan membuat gentong, guci, celengan, paso air, pot kembang , kendil, kendi dan kreasi lainnya. Saat masih banyak para pedagang keliling semangat memasarkan gerabahnya karena masih banyak yang membutuhkan gerabah. Saat itu pemerintah setempat masih bangga mempromosikan pengrajin gerabah sebagai assets lokal yang bernilai.

Itu dulu, dulu sekali. Sekarang mana ada pengrajin yang mau bertahan, dalam gelombang arus modernisasi dengan masuknya barang-barang dari bahan plastik. Mana ada pengrajin gerabah yang mau bertahan lagi tanpa ada dukungan pemerintah. Mana ada pengrajin gerabah yang mau bersaing dengan produk-produk plastik. Mana ada pengrajin gerabah yang mau bertahan hanya karena ingin mempertahankan tradisi kampungnya, sebagai pembuat gerabah. Mana ada yang peduli lagi terhadap keberadaan mereka. Mana mau pemerintah daerah mengurusi mereka lagi, karena masih banyak urusan yang lebih menghasilkan kas daerah. Sungguh ironis memang ketika banyak yang meminta pekerjaan dengan cepatnya pemerintah daerah mencarikannya, tetapi mereka, para pengrajin gerabah di Karawang ini justru akan menciptakan lowongan pekerjaan saat banyaknya pesanan gerabah. Dan itu artinya orang orang di sekitarnya yang tadinya tidak produktif menjadi produktif kembali. Apakah hal itu tidak terpikirkan?

gerabah karawangPertanyaannya sekarang. Masih adakah pengrajin gerabah di Karawang? Apakah mungkin masih ada yang bertahan? Dari rasa keprihatinan dan rasa kepedulian, kami dari tim UKMKarawang.com bersama Karawang Guyub (orang-orang yang rindu dengan guyubna orang Karawang) langsung melakukan penelusuran ke lokasi pengrajin gerabah yang berada di Jl. Rangga Gede Kp. Anjun Gempol Kelurahan Tanjung Pura Kec. Karawang Barat. Dan ternyata masih ada para pengrajin yang bertahan sampai hari ini, bertahan dengan segala keterbatasannya, peralatan pengrajin yang sederhana maupun tempat pembakarannya yang masih tradisional dan sudah tua. Tetapi mereka tetap memancarkan semangat untuk terus berkarya.

Diantara yang masih bertahan adalah Bapak Nesin (60) dan Bapak Komar (56), ada atau tidaknya pesanan mereka tetap berkarya menghasilkan produksi gerabah.

“Dulu saya membuat gerabah ini bermacam-macam kalau saat ini, paling membuat gentong (tempat air) , paso air dan coet sambel. Karena barang itu yang masih laku di jual” jelas Bapak Nesin. “Alhamdulillah walau dengan keadaan seperti ini saya bisa menyekolahkan anak-anak minimal SMK. Ada atau tidak adanya pesanan saya tetap berproduksi setiap hari. Kecuali kalau bahan tanah liatnya sudah habis.”

Apakah masih ada yang membeli gerabah ini? Bagaimana bapak memasarkannya?

“Masih Ada. Dan biasanya masih ada yang memesan, walaupun tidak banyak. Dan yang memesannya kadang malah dari daerah luar Karawang, misal pedagang dari Cikarang. Sebagian lai di pasarkan oleh para pedagang keliling yang datang kemari dan yang masih bertahan. Hanya saja paling gerabah gentong kecil, paso air, dan kendi.”

Gerabah apa saja yang biasanya memesan ke bapak? Apakah masih sanggup mengerjakan pesanan yang banyak?

“Gentong kecil, coet sambel, kompor kecil yang berikut cetakan kue sorabi, pot bunga dan lainnya. Yang terpenting masih berbentuk bulat bawahnya dan tidak bersiku (berbentuk kotak). Kami masih sanggup apabila ada pesanan yang banyak yang terpenting ada gambar dan ukurannya. Jadi bisa mudah membuatkannya. Hanya saja proses selesainya yang bisa lama karena proses pembakarannya masih menggunakan pembakaran yang sederhana seperti itu (sambil menunjuk ke tempat pembakaran yang sangat tua).”

Berapa penghasilan bapak perbulannya?

“Tidak menentu, paling antara Rp 400.000,- sampai Rp 1.000.000,- perbulan, itu belum dikurangi dengan biaya bahan tanah liatnya. Cukup tidak cukup ya harus bisa cukup.”

gerabah karawang

***

Lantas apa yang bisa kita lakukan, sebagai warga Karawang?

“Kalau tadi saya berbicara dengan mereka, seharusnya para pengrajin ini ditingkatkan pengetahuan gerabahnya ini, misal dengan membawa beberapa pengrajin yang ada ini ke pelatihan tembikar/gerabah di luar daerah Karawang yang sudah maju. Pengetahuan tentang membakar gerabah yang lebih baik lagi. Dan ini seharusnya bisa dilakukan oleh pemerintah daerah Karawang.” ujar abah Iwan S Amintrapraja dari Karawang Guyub.

“Saya setuju sekali jika kita bisa membantu memasarkan gerabah ini misalnya menjadi kan sebagai oleh-oleh tangan dari Karawang, yaitu dengan membuat variasi produk gerabah dengan sentuhan seni dan estetika dengan rasa. Kami dari Karawang Guyub akan membantu agar gerabah tanah liat asli Karawang ini bisa lebih memasyarakat lagi. Dan hal ini juga memerlukan ‘keguyuban urang Karawang’ untuk bersama-sama mendukungnya.” sambung abah Bapung Aing dari Karawang Guyub.

Sumber : http://ukmkarawang.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s