Messi

Tragika Keindahan Messi

Sebelum Argentina gagal merebut gelar juara Piala Amerika, publik bola tak kurang kata-kata untuk memuji Lionel Messi. Menjelang final Liga Champions 2015, di mana Juventus berhadapan dengan Barcelona, Gianluigi Buffon menyebut Messi, si striker Argentina yang jadi andalan Barcelona, makhluk angkasa luar yang turun ke bumi.

“Messi adalah alien, yang membaktikan dirinya bermain dengan manusia,” kata Buffon, kiper dan kapten Juventus itu. Buffon hanya bisa berharap, dalam pertandingan final itu, semoga Messi tidak lagi turun dari langit, tetapi “datang dari bumi, dan menjadi biasa seperti kami semua ini.”

Final Liga Champions 2015 Barcelona vs Juventus
Final Liga Champions 2015 Barcelona vs Juventus

Ketakutan Buffon dan kawan-kawannya beralasan. Betapa fantastis aksi Messi, waktu ia dan kawan-kawannya menumpas Athletic Bilbao dan membawa Barcelona juara Piala Raja tahun ini. Empat pemain belakang Athletic dikecohnya. Bola tak mau lepas dari belaian kakinya. Gawang Athletic pun akhirnya jebol oleh bola Messi, yang amat sensasional itu.

Buat Barcelona, Messi seakan mempunyai hakikat yang absolut. “Leo adalah pemain dari dimensi yang lain. Permainannya khas dan tidak bisa ditiru. Ia melakukan sesuatu yang kelihatan sangat gampang baginya, padahal tak ada orang yang bisa melakukannya. Memiliki dia adalah jaminan keberhasilan,” kata Andres Iniesta.

Dan, jika dalam bola ada kebenaran, kebenaran bola seakan sepenuhnya ada pada Messi. Maka kata Gerard Pique, “Jika inspirasi datang padanya, tak seorang pun bisa menahannya. Tak ada sistem, tak ada pelatih yang bisa menyetopnya.”

Benar, Messi tak bisa ditahan oleh pelatih mana pun. Termasuk Pep Guardiola yang dulu pernah membesarkannya. Guardiola tahu segala tentang Messi. Tetapi, ketika Bayern Muenchen harus menghadapi dia di Liga Champions, Guardiola juga tidak mempunyai formula bagaimana ia bisa menahan Messi. Messi membuat Bayern babak belur dan tersingkir dari liga bergengsi itu.

Maka tulis koran Spanyol, Marca, “Bahkan, Pep pun tak bisa menahannya.” Dan, Guardiola, pelatih Bayern Muenchen itu, mengakuinya. “Sudah lama kami berjalan dan mempersiapkan diri, dan tiba-tiba Messi datang,” katanya.

Memang Messi tiba-tiba datang menghancurkan impian Guardiola yang telah demikian gemilang mengasah Bayern. Guardiola telah mengasuh anak, yang kemudian mempermalukannya.

Setelah kepergian Guardiola, Messi sempat melewatkan masa yang kurang bahagia ketika Barca dilatih oleh Luis Enrique. Messi bukanlah pribadi yang dengan sendirinya mudah. Guardiola yang lama mengasuhnya pun kerap mengalami kesulitan dengannya.

Suasana latihan sangat bergantung pada suasana hati Messi. Kalau Messi riang, pemain-pemain lain ikut riang berlatih. Maka Guardiola sering pula bertanya, bagaimana keadaan hati Messi, beres atau tidak.

Untung waktu itu ada Jose Manuel Pinto, kiper cadangan, pandai mengambil hati Messi dan membuatnya riang gembira, hingga tim pun ikut lega gembira. Sayang, Barca pun melepas Pinto ke dalam masa pensiunnya. Ini tentu membuat Messi makin bersedih hati.

Syukurlah Luis Enrique bisa segera mengatasi krisis Messi. Messi kembali memperoleh kegembiraan bermain bola dan menjadi makin matang. Messi tidak lagi menjadi pemain egois. Ia melayani Neymar dan Suarez sehingga bersama dia Barca mempunyai tridente, tiga ujung tombak maut dan paling ditakuti kesebelasan lain selama musim kompetisi lalu.

Dengan kematangan itu, Messi bersama Argentina pergi ke Piala Amerika di Cile. “Sekarang saatnya kami membawa pulang trofi Piala Amerika ke Argentina,” kata Messi optimistis.

Memang akhirnya Messi bersama Argentina sampai di final melawan tuan rumah Cile. “Ganamos, ganamos, kita menang, kita menang,” begitu teriakan memenuhi Estadio Nacional, Santiago. Sayang pekik kemenangan itu bukan dari Argentina, tetapi dari Cile, yang menjungkirkan Messi dan kawan-kawannya lewat adu penalti, 4-1.

Messi tertunduk lemas. Di benaknya berputar lagi kesedihan final Piala Dunia 2014, saat gol Mario Goetze menjebol gawang Argentina dan membuat Jerman juara.

“Hati saya sungguh terluka karena tak berhasil membawa pulang piala ke Argentina. Cara kami kalah sungguh menyakitkan. Saya tak berpikir tentang golden ball. Saya hanya bisa bersedih betapa banyak kesempatan yang kami sia-siakan,” kata Messi pada waktu itu. Dan, sekarang di Cile, kegagalan dan kesedihan itu menimpanya lagi.

Pep Guardiola pernah berkata, “Dari kegagalan, orang bisa belajar jauh lebih banyak daripada dari kemenangan. Kemenangan sering membuat orang jadi bodoh.” Mengomentari kata-kata Guardiola ini, kolumnis koran die Zeit, Peter Kuemmel, menulis dengan mengutip kata-kata Graham Green dalam romannya, The Heart of the Matter: “Beauty is like succes: we can’t love it for long“.

Kata-kata Green ini kiranya tepat dikenakan pada Messi, yang pernah banyak belajar dari Guardiola. Messi adalah keindahan bola yang sangat sukses. Tetapi, ternyata keindahan itu tak bisa lama dicinta.

Memang dalam bola, keindahan itu rasanya sama dengan kegagalan. Sebab yang akhirnya menjadi ukuran adalah kemenangan. Messi itu indah di Eropa bersama Barca, tetapi Messi itu pula yang gagal di Amerika Latin bersama Argentina.

Keindahan yang gagal, itulah yang menyakitkan Messi di sepanjang hidupnya nanti. Pada Piala Dunia 2018, Messi sudah berusia 30 tahun. Sulit rasanya di usia senja bola itu, ia masih bisa menunjukkan kehebatannya.

Karena tidak pernah memenangi piala buat tanah airnya Argentina, dalam sejarah Messi mungkin takkan pernah bisa disejajarkan dengan legenda Amerika Latin: Pele dan Maradona. Alasannya, meski sukses dengan keindahannya di Barca, Messi gagal bagi tanah airnya, Argentina. Itulah tragika keindahan bola seorang Messi.

Sumber : Kompas

Advertisements

2 thoughts on “Tragika Keindahan Messi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s